12/11/2015

Penelitian Tindakan Kelas : PENGGUNAAN METODE INQUIRY DALAM PROSES PEMBELAJARAN PERSIAPAN MENGHADAPI UJIAN NASIONAL




PENGGUNAAN  METODE INQUIRY DALAM PROSES
PEMBELAJARAN PERSIAPAN MENGHADAPI UJIAN NASIONAL
Oleh
Drs. Ibrahim Bewa, MA


Abstrak

Metode inquiry merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar menjadi sangat aktif dalam proses pembelajaran. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Walaupun dalam praktiknya aplikasi metode pembelajaran inquiry sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajaran dengan metode inquiry memiliki 5 komponen yang umum yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources." Metode ini dapat dianalogikan seperti belajar mengasah pisau supaya tajam bukan belajar bagaimana memotong daging.  Penggunaan metode inquiri dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) sangat dianjurkan karena siswa diharapkan akan lebih aktif mencari dan menyelesaikan soal soal sendiri baik secara individu maupun kelompok.

I.                   Pendahuluan

              Metode inquiry  adalah pendekatan pedagogis yang dapat mendorong  siswa untuk mengeksplorasi materi pembelajaran dengan  meneliti, dan menjawab pertanyaan. Metode ini juga dikenal sebagai pembelajaran berbasis masalah atau melakukan  'penyelidikan,' dan pendekatan ini menempatkan siswa pada pusat kurikulum, dan terfokus pada keterampilan untuk meneliti /mencari untuk dapat memahami sesuatu atau untuk mendapatkan pengetahuan. Kata “inquiriy” berasal dari bahasa inggris yang secara harfiah berarti penyelidikan. Banyak pakar mengemukakan bahwa metode inkuiri merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik lain.
Metode inquiry adalah sebuah model pembelajaran yang intinya melibatkan siswa ke dalam masalah asli dan menghadapkan mereka dengan sebuah penyeledikan, membantu mereka mengidentifikasi konseptual atau metode pemecahan masalah yang terdapat dalam penyelidikan, dan mengarahkan siswa untuk mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Dengan kata lain , Metode ini menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
             Pembelajaran berdasarkan metode inquiry sering digunakan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan matematika, tetapi pendekatan ini juga cocok untuk mata pelajaran yang lain. Demikian juga, metode ini dapat diterapkan mulai dari SMP/Mts sampai ke Perguruan Tinggi.  Proses pembelajaran dapat dilakukan secara individu atau kelompok sesuai dengan keinginan siswa. Dalam proses pembelaaran persiapan menghadapi Ujian Nasional (UN), guru disarankan untuk menggunakan metode ini karena peran guru dalam kelas Inquiry sangat berbeda dengan guru di kelas konvensional. Dalam kelas inquiry, guru hanya bertindak sebagai fasilitator untuk membantu siswa dalam melakukan penyelidikan. Siswa itu sendiri yang lebih aktif mencari sendiri jawaban dari soal- soal baik yang mereka rakit sendiri atau yang telah tersedia dari berbagai buku referensi. Kadang kala guru kelihatannya tidak  melakukan sesuatu, karena siswa  sendiri yang berjuang untuk merumuskan pertanyaan dan mencari jawabannya. Namun sesungguhnya bagi para guru yang  memilih untuk menggunakan metode inquiry, berarti mereka telah memiliki komitmen kuat untuk mendorong siswa agar lebih aktif di dalam memilih, mencari,  dan merakit soal-soal ujian  dan berusaha menggunakan berbagai referensin untuk mendapatkan jawabannya.
I.                  Mengapa Motode Inquiry
Metode inkuiri adalah sebuah model pembelajaran yang mampu menciptakan peserta didik yang cerdas dan berwawasan. Dengan metode ini peserta didik dilatih untuk selalu berpikir kritis karena membiasakan peserta didik memecahkan suatu masalah sendiri. Model ini bertujuan untuk melatih kemampuan peserta didik dalam meneliti, menjelaskan fenomena, dan memecahkan masalah secara ilmiah. Dalam proses inkuiri guru dalam hal ini hanya bertindak sebagai fasilitator, nara sumber dan penyuluh kelompok. Para peserta didik didorong untuk mencari pengetahuan sendiri, bukan dijejali dengan pengetahuan.
    Tujuan utama pembelajaran melalui metode inkuiri adalah menolong siswa untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan berpikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka. Menurut Wina Sanjaya (2007 : 196 – 197) mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi ciri utama dari metode inkuiri, yaitu :
1.  Metode inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya metode inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pembelajaran itu sendiri.
2.  Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Guru dituntut untuk memiliki kemampuan menggunakan teknik bertanya, karena dalam proses pembelajaran dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa.
3.  Tujuan dari penggunaan metode inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan demikian, dalam pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.

II.                Prinsip-prinsip Penggunaan Metode Inquiry
Sebagaimana telah diutarakan di atas bahwa metode inkuiri merupakan salah satu metode yang penekanannya pada pengembangan intelektual siswa. Dalam menggunakan metode inkuiri, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh setiap guru, agar metode ini benar-benar mencapai suatu keberhasilan dalam proses pembelajaran. Menurut Wina Sanjaya (2007 : 199 – 201) ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan seorang guru dalam menggunakan metode inkuiri yaitu :
  1. . Berorientasi pada pengembangan intelektual
Maksudnya adalah dalam model pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena itu kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan model inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauhmana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu.
  1.  Prinsip interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan (directing) agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka.
  1.  Prinsip bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam mengembangkan model inkuiri adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk mejawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Oleh sebab itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan. Berbagai jenis dan tehnik bertanya perlu dikuasai oleh setiap guru, apakah itu bertanya hanya sekadar untuk meminta perhatian siswa, bertanya untuk melacak, bertanya untuk mengembangkan kemampuan atau bertanya untuk menguji.
  1.  Prinsip belajar untuk berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan, baik otak reptil, otak limbik, maupun otak neokortek. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.
  1.  Prinsip keterbukaan
Dalam pembelajaran siswa perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebearan hipotesis yang diajukannya.
Metode inkuiri merupakan metode penyelidikan yang melibatkan proses mental dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut (E. Mulyasa, 2007 109) :
1. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang fenomena alam
2. Merumuskan masalah yang ditemukan
3. merumuskan hipotesis
4. merancang dan melakukan eksperimen
5. mengumpulkan dan menganalisis data
6. menarik kesimpulan mengembangkan sikap ilmiah, yakni: objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, berkemauan, dan tanggung jawab.
Prinsip-prinsip penggunaan metode inkuri tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh seorang guru, agar dalam proses pembelajaran dengan metode inkuiri dalam berjalan dengan baik dan bisa mendapatkan hasil yang memuaskan yaitu menciptakan suatu pembelajaran yang menyenangkan dan berorientasi pada penciptaan siswa yang mampu berpikir kritis dan ilmiah.
IV. Prosedur Model Pembelajaran Inkuiri
Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri dapat mengkuti langkah-langkah sebagai berikut (Wina Sanjaya, 2007 : 201 – 205) :
1. Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran, guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang penting, keberhasilan model ini sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi adalah :
· Menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
· Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang  dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan.
· Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar.
2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Teka-teki yang menjadi masalah dalam berinkuiri adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantaranya;
· Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Guru hanya memberikan topik yang akan dipelajari, sedangkan bagaimana rumusan masalah yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan sebaiknya diserahkan kepada siswa.
· Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti. Artinya, guru perlu mendorong agar siswa dapat merumuskan masalah yang menurut guru jawaban sebenarnya sudah ada, tinggal siswa mencari dan mendapatkan jawabannya secara pasti.
· Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa. Artinya, sebelum masalah itu dikaji lebih jauh melalui proses inkuiri, guru perlu yakin terlebih dahulu bahwa siswa sudah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah.
3. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam model pembelajaran ini mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan
5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yag diberikan. Menguji hipotesis berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
F. Ujian Nasional
Ujian Nasional (UN) merupakan suatu sistem evaluasi yang standar untuk pendidikan dasar dan menengah yang dilakukan secara nasional. Tujuan utama UN ini adalah untuk menjaga  persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional perlu dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.  Setiap Tingkat Satuan Pendidikan perlu dilakukan evaluasi oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan. Dengan adanya UN sebagai salah satu bentuk evaluasi diharapkan standar mutu pendidikan akan terbenahi dengan baik.
Untuk sukses menghadapi UN, Semua peserta ujian diharapkan telah mempersiapkan diri dengan matang jauh-jauh hari sebelum pelaksanaannya. Di bawah ini akan disajikan beberapa saran yang dianggap bermanfaat dalam menghadapi Ujian Nasional.  Hal-hal tersebut antara lain:
1.      Beberapa bulan sebelum Ujian, calon peserta ujian telah mempersiapkan diri  baik secara fisik maupun mental. Mereka menjaga kesehatan dan memotivasi diri untuk sukses dalam Ujian. Di dalam proses pembelajaran, calon peserta ujian perlu memilih metode belajar yang tepat seperti metode Inquiry. 
2.      Calon peserta ujian juga perlu menetapkan jadwal waktu belajar secara rinci dan mematuhi dan disiplin terhadap jadwal yang telah dibuat sendiri. Kemudian mereka berusaha belajar bersama teman atau kelompok belajar atau ikut les atau kursus untuk meningkatkan kemampuannya.
3.      Calon peserta ujian mencari tahu format Ujian Nasional dan mengumpulkan soal  soal ujian nasional yang lalu untuk dibahas bersama di dalam kelompok dan bila ada keraguan, maka mintalah bantuan dari guru mata pelajaran tersebut. Latihan menjawab soal-soal UN yang lalu akan dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam UN sebenarnya nantinya.
4.   Menjelang Ujian, peserta ujian telah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam proses ujian termasuk alat-alat tulis, kartu ujian, pakaian seragam dan sebagainya serta mencari waktu dan tempat ujian dilaksanakan.
5.   Pada Saat Ujian, peserta ujian usahakan datang lebih awal ke tempat ujian, agar  tidak tergesa-gesa dan punya waktu cukup untuk memulai ujian. Kemudian selalu bersikap tenang dan jangan tegang serta selalu berdoa agar lebih siap menghadapi Ujian.
6.   Peserta ujian dianjurkan untuk memahami instruksi sebelum mengerjakan soal dan apabila ada yang kurang jelas, maka tanyakan kepada pengawas ujian. Dalam menjawab soal, kerjakanlah dulu soal-soal yang lebih mudah, sedang dan kemudian baru mengerjakan soal soal yang sulit sehingga waktu yang diberikan akan dapat dimanfaatkan secara efisien.Isilah Lembar jawaban dengan hati-hati, agar menghindari kesalahan pengisian. Bila waktu masih tersisa setelah mengerjakan semua soal, maka periksalah kembali jawabannya untuk mengoreksi jika masih ada yang salah.
V. Kesimpulan
Metode inquiri pmerupakan metode pengajaran yang berusaha meletakan dasar dan mengembangkan cara befikir ilmiah. Dalam penerapan metode ini siswa dituntut untuk lebih banyak belajar sendiri dan berusaha mengembangkan kreatifitas dalam pengembangan masalah yang dihadapinya sendiri. Metode mengajar inquiri akan menciptakan kondisi belajar yang efektif dan kundusif, serta mempermudah dan memperlancar kegiatan belajar mengajar.  Metode inquiry juga merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah.

Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah.
Dalam proses belajar menghadapi UN, metode inquiry yang dapat membuat siswa lebih aktif  mencari, memilih serta merakit soal-soal dan sekaligus berusaha sendiri untuk mencari jawabannya akan sangat efektif bila diterapkan di semua Tingkat Satuan Pendidikan. Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator dan pembimbing.

VI. Referensi

Amaral, Olga, Leslie Garrison, Michael Klentschy. 2002. Helping English learners
increase achievement through inquiry-based science instruction. Bilingual Research Journal 26 (2): 225-234.

Budiningsih, Asri, C. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta, Penerbit Rineka Cipta.

Garton, Janetta., 2005. Inquiry-Based Learning. Willard R-II School District, Technology Integration Academy.

Haury, L. David. (1993). Teaching Science Through Inquiry. Columbus, OH: ERIC Clearinghouse for Science, Mathematics, and Environment Education. (ED359048)
Sagala, Syaiful., 2004. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung, Penerbit Alfabeta.
McCarty, T.L., Regina Hadley Lynch, Stephen Wallace, AnCita Benally. 1991. Classroom
Inquiry and Navajo Learning Styles: A Call for Reassessment. Anthropology and
Education Quarterly 22 (1):42-59.
Scruggs, T. E. and M.A. Mastropieri. 1993. Reading versus doing: The relative effects of
textbook based and inquiry-oriented approaches to science learning in special
education classrooms. Journal of Special Education 27 (1):1-15.

Penulis:
Drs. Ibrahim Bewa, MA.
Lahir di Aceh Utara, 2 Juni 1956. Master bidangPengajaran Bahasa Inggris, lulusan Thames ValleyUniversity (TVU) London.  Saat ini bekerja sebagai tenaga pengajar pada STAIN Malikussaleh Lhokseumawe dan Wakil Ketua MPD Kabupaten Aceh Utra

No comments:

12/11/2015

Penelitian Tindakan Kelas : PENGGUNAAN METODE INQUIRY DALAM PROSES PEMBELAJARAN PERSIAPAN MENGHADAPI UJIAN NASIONAL




PENGGUNAAN  METODE INQUIRY DALAM PROSES
PEMBELAJARAN PERSIAPAN MENGHADAPI UJIAN NASIONAL
Oleh
Drs. Ibrahim Bewa, MA


Abstrak

Metode inquiry merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar menjadi sangat aktif dalam proses pembelajaran. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Walaupun dalam praktiknya aplikasi metode pembelajaran inquiry sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajaran dengan metode inquiry memiliki 5 komponen yang umum yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources." Metode ini dapat dianalogikan seperti belajar mengasah pisau supaya tajam bukan belajar bagaimana memotong daging.  Penggunaan metode inquiri dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) sangat dianjurkan karena siswa diharapkan akan lebih aktif mencari dan menyelesaikan soal soal sendiri baik secara individu maupun kelompok.

I.                   Pendahuluan

              Metode inquiry  adalah pendekatan pedagogis yang dapat mendorong  siswa untuk mengeksplorasi materi pembelajaran dengan  meneliti, dan menjawab pertanyaan. Metode ini juga dikenal sebagai pembelajaran berbasis masalah atau melakukan  'penyelidikan,' dan pendekatan ini menempatkan siswa pada pusat kurikulum, dan terfokus pada keterampilan untuk meneliti /mencari untuk dapat memahami sesuatu atau untuk mendapatkan pengetahuan. Kata “inquiriy” berasal dari bahasa inggris yang secara harfiah berarti penyelidikan. Banyak pakar mengemukakan bahwa metode inkuiri merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik lain.
Metode inquiry adalah sebuah model pembelajaran yang intinya melibatkan siswa ke dalam masalah asli dan menghadapkan mereka dengan sebuah penyeledikan, membantu mereka mengidentifikasi konseptual atau metode pemecahan masalah yang terdapat dalam penyelidikan, dan mengarahkan siswa untuk mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Dengan kata lain , Metode ini menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
             Pembelajaran berdasarkan metode inquiry sering digunakan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan matematika, tetapi pendekatan ini juga cocok untuk mata pelajaran yang lain. Demikian juga, metode ini dapat diterapkan mulai dari SMP/Mts sampai ke Perguruan Tinggi.  Proses pembelajaran dapat dilakukan secara individu atau kelompok sesuai dengan keinginan siswa. Dalam proses pembelaaran persiapan menghadapi Ujian Nasional (UN), guru disarankan untuk menggunakan metode ini karena peran guru dalam kelas Inquiry sangat berbeda dengan guru di kelas konvensional. Dalam kelas inquiry, guru hanya bertindak sebagai fasilitator untuk membantu siswa dalam melakukan penyelidikan. Siswa itu sendiri yang lebih aktif mencari sendiri jawaban dari soal- soal baik yang mereka rakit sendiri atau yang telah tersedia dari berbagai buku referensi. Kadang kala guru kelihatannya tidak  melakukan sesuatu, karena siswa  sendiri yang berjuang untuk merumuskan pertanyaan dan mencari jawabannya. Namun sesungguhnya bagi para guru yang  memilih untuk menggunakan metode inquiry, berarti mereka telah memiliki komitmen kuat untuk mendorong siswa agar lebih aktif di dalam memilih, mencari,  dan merakit soal-soal ujian  dan berusaha menggunakan berbagai referensin untuk mendapatkan jawabannya.
I.                  Mengapa Motode Inquiry
Metode inkuiri adalah sebuah model pembelajaran yang mampu menciptakan peserta didik yang cerdas dan berwawasan. Dengan metode ini peserta didik dilatih untuk selalu berpikir kritis karena membiasakan peserta didik memecahkan suatu masalah sendiri. Model ini bertujuan untuk melatih kemampuan peserta didik dalam meneliti, menjelaskan fenomena, dan memecahkan masalah secara ilmiah. Dalam proses inkuiri guru dalam hal ini hanya bertindak sebagai fasilitator, nara sumber dan penyuluh kelompok. Para peserta didik didorong untuk mencari pengetahuan sendiri, bukan dijejali dengan pengetahuan.
    Tujuan utama pembelajaran melalui metode inkuiri adalah menolong siswa untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan berpikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka. Menurut Wina Sanjaya (2007 : 196 – 197) mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi ciri utama dari metode inkuiri, yaitu :
1.  Metode inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya metode inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pembelajaran itu sendiri.
2.  Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Guru dituntut untuk memiliki kemampuan menggunakan teknik bertanya, karena dalam proses pembelajaran dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa.
3.  Tujuan dari penggunaan metode inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan demikian, dalam pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.

II.                Prinsip-prinsip Penggunaan Metode Inquiry
Sebagaimana telah diutarakan di atas bahwa metode inkuiri merupakan salah satu metode yang penekanannya pada pengembangan intelektual siswa. Dalam menggunakan metode inkuiri, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh setiap guru, agar metode ini benar-benar mencapai suatu keberhasilan dalam proses pembelajaran. Menurut Wina Sanjaya (2007 : 199 – 201) ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan seorang guru dalam menggunakan metode inkuiri yaitu :
  1. . Berorientasi pada pengembangan intelektual
Maksudnya adalah dalam model pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena itu kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan model inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauhmana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu.
  1.  Prinsip interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan (directing) agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka.
  1.  Prinsip bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam mengembangkan model inkuiri adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk mejawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Oleh sebab itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan. Berbagai jenis dan tehnik bertanya perlu dikuasai oleh setiap guru, apakah itu bertanya hanya sekadar untuk meminta perhatian siswa, bertanya untuk melacak, bertanya untuk mengembangkan kemampuan atau bertanya untuk menguji.
  1.  Prinsip belajar untuk berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan, baik otak reptil, otak limbik, maupun otak neokortek. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.
  1.  Prinsip keterbukaan
Dalam pembelajaran siswa perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebearan hipotesis yang diajukannya.
Metode inkuiri merupakan metode penyelidikan yang melibatkan proses mental dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut (E. Mulyasa, 2007 109) :
1. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang fenomena alam
2. Merumuskan masalah yang ditemukan
3. merumuskan hipotesis
4. merancang dan melakukan eksperimen
5. mengumpulkan dan menganalisis data
6. menarik kesimpulan mengembangkan sikap ilmiah, yakni: objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, berkemauan, dan tanggung jawab.
Prinsip-prinsip penggunaan metode inkuri tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh seorang guru, agar dalam proses pembelajaran dengan metode inkuiri dalam berjalan dengan baik dan bisa mendapatkan hasil yang memuaskan yaitu menciptakan suatu pembelajaran yang menyenangkan dan berorientasi pada penciptaan siswa yang mampu berpikir kritis dan ilmiah.
IV. Prosedur Model Pembelajaran Inkuiri
Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri dapat mengkuti langkah-langkah sebagai berikut (Wina Sanjaya, 2007 : 201 – 205) :
1. Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran, guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang penting, keberhasilan model ini sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi adalah :
· Menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
· Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang  dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan.
· Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar.
2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Teka-teki yang menjadi masalah dalam berinkuiri adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantaranya;
· Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Guru hanya memberikan topik yang akan dipelajari, sedangkan bagaimana rumusan masalah yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan sebaiknya diserahkan kepada siswa.
· Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti. Artinya, guru perlu mendorong agar siswa dapat merumuskan masalah yang menurut guru jawaban sebenarnya sudah ada, tinggal siswa mencari dan mendapatkan jawabannya secara pasti.
· Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa. Artinya, sebelum masalah itu dikaji lebih jauh melalui proses inkuiri, guru perlu yakin terlebih dahulu bahwa siswa sudah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah.
3. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam model pembelajaran ini mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan
5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yag diberikan. Menguji hipotesis berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
F. Ujian Nasional
Ujian Nasional (UN) merupakan suatu sistem evaluasi yang standar untuk pendidikan dasar dan menengah yang dilakukan secara nasional. Tujuan utama UN ini adalah untuk menjaga  persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional perlu dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.  Setiap Tingkat Satuan Pendidikan perlu dilakukan evaluasi oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan. Dengan adanya UN sebagai salah satu bentuk evaluasi diharapkan standar mutu pendidikan akan terbenahi dengan baik.
Untuk sukses menghadapi UN, Semua peserta ujian diharapkan telah mempersiapkan diri dengan matang jauh-jauh hari sebelum pelaksanaannya. Di bawah ini akan disajikan beberapa saran yang dianggap bermanfaat dalam menghadapi Ujian Nasional.  Hal-hal tersebut antara lain:
1.      Beberapa bulan sebelum Ujian, calon peserta ujian telah mempersiapkan diri  baik secara fisik maupun mental. Mereka menjaga kesehatan dan memotivasi diri untuk sukses dalam Ujian. Di dalam proses pembelajaran, calon peserta ujian perlu memilih metode belajar yang tepat seperti metode Inquiry. 
2.      Calon peserta ujian juga perlu menetapkan jadwal waktu belajar secara rinci dan mematuhi dan disiplin terhadap jadwal yang telah dibuat sendiri. Kemudian mereka berusaha belajar bersama teman atau kelompok belajar atau ikut les atau kursus untuk meningkatkan kemampuannya.
3.      Calon peserta ujian mencari tahu format Ujian Nasional dan mengumpulkan soal  soal ujian nasional yang lalu untuk dibahas bersama di dalam kelompok dan bila ada keraguan, maka mintalah bantuan dari guru mata pelajaran tersebut. Latihan menjawab soal-soal UN yang lalu akan dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam UN sebenarnya nantinya.
4.   Menjelang Ujian, peserta ujian telah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam proses ujian termasuk alat-alat tulis, kartu ujian, pakaian seragam dan sebagainya serta mencari waktu dan tempat ujian dilaksanakan.
5.   Pada Saat Ujian, peserta ujian usahakan datang lebih awal ke tempat ujian, agar  tidak tergesa-gesa dan punya waktu cukup untuk memulai ujian. Kemudian selalu bersikap tenang dan jangan tegang serta selalu berdoa agar lebih siap menghadapi Ujian.
6.   Peserta ujian dianjurkan untuk memahami instruksi sebelum mengerjakan soal dan apabila ada yang kurang jelas, maka tanyakan kepada pengawas ujian. Dalam menjawab soal, kerjakanlah dulu soal-soal yang lebih mudah, sedang dan kemudian baru mengerjakan soal soal yang sulit sehingga waktu yang diberikan akan dapat dimanfaatkan secara efisien.Isilah Lembar jawaban dengan hati-hati, agar menghindari kesalahan pengisian. Bila waktu masih tersisa setelah mengerjakan semua soal, maka periksalah kembali jawabannya untuk mengoreksi jika masih ada yang salah.
V. Kesimpulan
Metode inquiri pmerupakan metode pengajaran yang berusaha meletakan dasar dan mengembangkan cara befikir ilmiah. Dalam penerapan metode ini siswa dituntut untuk lebih banyak belajar sendiri dan berusaha mengembangkan kreatifitas dalam pengembangan masalah yang dihadapinya sendiri. Metode mengajar inquiri akan menciptakan kondisi belajar yang efektif dan kundusif, serta mempermudah dan memperlancar kegiatan belajar mengajar.  Metode inquiry juga merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah.

Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah.
Dalam proses belajar menghadapi UN, metode inquiry yang dapat membuat siswa lebih aktif  mencari, memilih serta merakit soal-soal dan sekaligus berusaha sendiri untuk mencari jawabannya akan sangat efektif bila diterapkan di semua Tingkat Satuan Pendidikan. Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator dan pembimbing.

VI. Referensi

Amaral, Olga, Leslie Garrison, Michael Klentschy. 2002. Helping English learners
increase achievement through inquiry-based science instruction. Bilingual Research Journal 26 (2): 225-234.

Budiningsih, Asri, C. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta, Penerbit Rineka Cipta.

Garton, Janetta., 2005. Inquiry-Based Learning. Willard R-II School District, Technology Integration Academy.

Haury, L. David. (1993). Teaching Science Through Inquiry. Columbus, OH: ERIC Clearinghouse for Science, Mathematics, and Environment Education. (ED359048)
Sagala, Syaiful., 2004. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung, Penerbit Alfabeta.
McCarty, T.L., Regina Hadley Lynch, Stephen Wallace, AnCita Benally. 1991. Classroom
Inquiry and Navajo Learning Styles: A Call for Reassessment. Anthropology and
Education Quarterly 22 (1):42-59.
Scruggs, T. E. and M.A. Mastropieri. 1993. Reading versus doing: The relative effects of
textbook based and inquiry-oriented approaches to science learning in special
education classrooms. Journal of Special Education 27 (1):1-15.

Penulis:
Drs. Ibrahim Bewa, MA.
Lahir di Aceh Utara, 2 Juni 1956. Master bidangPengajaran Bahasa Inggris, lulusan Thames ValleyUniversity (TVU) London.  Saat ini bekerja sebagai tenaga pengajar pada STAIN Malikussaleh Lhokseumawe dan Wakil Ketua MPD Kabupaten Aceh Utra

No comments: